Jika Cinta Sebatas Leher

“Cinta itu cuma sampe sini…” (Kata sahabat saya Sambil menunjuk leher). “Turun kebawah…” (tangannya berpindah menunjuk perut) “dah urusan lapar”.

Quotenya sangat menarik didiskusikan. Saya mengatakan menarik di sini bukan berarti menyatakan setuju dengan statementnya. Namun bukan pula tidak setuju secara mutlak. Secara sekilas petikan tadi dapat dianggap meremehkan masalah cinta. Para pujangga-pujangga cinta di luar sana pasti sudah mulai geram sedetik setelah membaca dan atau mendengar pernyataan tersebut. Namun sebelum panas mari kita runut dulu pernyataan itu.

Meski mungkin bisa bermakna banyak dalam konteks post ini cinta yang dimaksud adalah spesifik cinta pada lawan jenis, misalnya suami istri. Jadi cinta pada anak, pada orang tua ada di luar curhat post ini. Cinta adalah sesuatu yang abstrak. Belum ada piranti ukur apa pun yang dapat mengukur cinta. Mungkin ilmuan di luar sana sudah menemukan alat untuk menimbang bobot atom terkecil, dapat menghitung jarak ke bintang terjauh dapat tahu tingkat tekanan air di palung laut terdalam namun bicara untuk mengukur cinta belum ada ilmuan manapun yang sudah menemukan sesuatu yang progresif. Jika seandainya cinta dapat diukur dengan mudah tentunya akan banyak masalah yang dapat diselesaikan. Tidak perlu lagi ada ketakutan perselingkuhan sebab kita tahu benar tingkat cinta dari pasangan kita. Tidak perlu lagi takut dimatrei karena meter cinta akan langsung membaca seseorang yang memiliki cinta palsu.

Cinta pada dasarnya sesuatu yang sangat baik. Ia penuh keindahan, ia menyejukan. Cinta bisa merubah orang paling jorok menjadi orang yang bersih dan wangi. Merubah pemalas menjadi pembelajar. Merubah si garang menjadi si lembut dan halus. Namun dasar yang baik tersebut akan menjadi terselewengkan jika ada motivasi-motivasi tidak baik di sana. Pertama jika cinta berubah menjadi nafsu, kedua ketidaktulusan, ketiga ketidakjujuran, keempat hanya ingin memanfaatkan dan kelima cinta yang terlalu sehingga menjadi obsesif dan posesif.

Untuk menjaga dasar yang baik agar tetap baik sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Langkah pertama adalah respek. Hargailah dan hormati orang yang kita cintai. Kita hargai dan hormati pendapatnya, kata hatinya, keinginannya dan sebagainya. Dengan dasar tersebut tidak akan pernah ada masalah yang terpendam tak tersampaikan. Semua pasti akan selalu mengalir keluar karena komunikasi berjalan lancar. Langkah kedua adalah tulus dan jujur. Jika 2 hal ini hilang maka yang akan muncul adalah perselingkuhan dan matrialisme. Langkah ketiga memaafkan dan meminta maaf. Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Hanya orang berani yang sanggup meminta maaf. Dan hanya orang paling bijak yang mampu memberi maaf dengan benar-benar tulus. Percayalah dalam hubungan apa pun jika hal ini bisa dicapai akan didapat keuntungan yang sangat luar biasa. Keempat, saling mengingatkan untuk kebaikan. Cinta pada dasarnya hal yang baik, oleh karena itu disesuaikan pula untuk melakukan hal yang baik dan benar.

Kembali ke masalah cinta itu hanya sampai leher turun ke perut tinggal lapar. Hal yang ditekankan dalam kalimat ini adalah cinta itu sesuatu yang penting dan tidak dangkal. Namun banyak orang terjebak berlebihan di sini. Sikap egois, posesif, tidak jujur, mementingkan nafsu dan seterusnya adalah salah satu manifestasi keberlebihan itu sehingga mendangkalkan makna cinta itu sendiri. Pada akhirnya kata cinta dideskripsikan bahwa dengan kalimat tadi. Untuk menghindari pendangkalan itu poinnya adalah respek, tulus dan jujur, memaafkan dan meminta maaf dan terakhir saling mengingatkan untuk kebaikan. Semoga cinta kita tak hanya sampai leher saja.

2 thoughts on “Jika Cinta Sebatas Leher

  1. Anonymous berkata:

    Guwe tertarik sama sentence mu yang bilang:
    quoted:
    Untuk menghindari pendangkalan itu poinnya adalah respek, tulus dan jujur, memaafkan dan meminta maaf dan terakhir saling mengingatkan untuk kebaikan.

    Point yang terakhir itu… agak lemah menurut guwe.
    Guwe ga bisa kasi contoh kongkrit. Tapi menurut guwe itu lemah.

    Misalnya:
    guwe cinta sama lu. guwe mau mengingatkan lu tentang sesuatu. tapi, dengan cara yang salah (note: guwe ga tau kalo itu salah, and I persisted that way)
    1. guwe mau mengingatkan lu untuk kebaikan lu (which is good)
    2. guwe tulus dan jujur mau mengingatkan lu (which is good)
    3. guwe respek lu dengan cara guwe sendiri (which is… good, I have my own way of expressing my love)
    4. guwe mau lu minta maaf sebagai tanda lu cinta sama guwe (which is… well, love needs assurance from time to time)
    5. guwe minta maaf sama lu dengan cara guwe sendiri (which is… good. I told you the reason)

    “My way” just does’t suit you. OR… do I have any other motives ?
    In that way, that is not love. It might have been cinta bertepuk sebelah tangan. But I need to see proof that someone, somewhere, bisa di perlakukan dengan “cara guwe itu” and find “that supposed” love we are dreaming and talking about.

    For “that” reason, I think that last point of yours is weak.

    NB: Guwe kaga gitu yah. Ini kan cuman contoh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s