Perencana vs Orang Spontan

Sedang berpikir tentang rencana. Satu waktu tertentu seringkali saya mempercayai hidup yang baik itu harus dibangun dengan rencana yang sespesifik mungkin. Setiap hal harus ditulis dan ditilaskan langkah-langkah dan waktu eksekusinya. Secara logis jika hal tersebut dilakukan seharusnya setiap rencana-rencana yang disiapkan akan tercapai secara sempurna tanpa cela. Namun, satu waktu tersebut nampaknya telah berlalu. Tiba-tiba kini saya tiba di saat ketika diri serasa benar-benar frustasi saat ternyata terlalu banyak berencana malah mematikan semangat untuk mengeksekusi. Terlalu banyak hal yang nampak harus diantisipasi. Terlalu banyak hal yang nampak menakutkan padahal terjadinya pun belum tentu.

Di sisi kontradiktif dari perencana adalah orang-orang spontan. Mereka hidup mengalir. Sesuatu akan dilakukan dengan seketika sesuai dengan hal yang mereka lihat dan rasakan. Yang menariknya meski tanpa ada studi ilmiah yang mendasari, orang-orang yang spontan lebih dapat banyak mencapai hal-hal yang justru pada awalnya tidak pernah mereka duga. Berlawanan dengan perencana ekstensif yang dijelaskan di bagian atas tadi. Orang-orang spontan nampak lebih bahagia, mendapat pekerjaan yang mereka inginkan dan sepertinya lebih banyak mengalami keberuntungan.

Lalu apakah berarti dapat disimpulkan bahwa kebiasaan merencana itu tidak terlalu berdampak baik dan lebih baik bersikap spontan saja dalam mencapai sesuatu? Tidak seperti itu juga. Sepertinya orang-orang spontan bahagia yang diceritakan di atas dapat mencapai hal-hal tertentu bukan karena karakter spontatinas mereka. Namun adanya kemampuan berpikir positif yang mereka miliki. Orang-orang spontan seringkali mudah dalam berpikir positif. Mereka tidak terlalu memusingkan ini itu dalam mengerjakan sesuatu. Mereka hanya percaya ketika sesuatu harus dikerjakan, mereka akan mengerjakannya dan mereka yakin hasilnya akan baik. Perencana ekstensif ketika akan melakukan sesuatu, mereka menyiapkan dengan detail semua hal. Mereka memperhatikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Sehingga ketika hal yang dikerjakan pun belum dimulai mereka sudah merasa takut duluan. Mereka akhirnya terlalu banyak berpikir negatif sehingga hal-hal yang mereka rencakan justru sia-sia karena tidak tereksekusi.

Rencana adalah sesuatu yang perlu. Namun jika rencana dibangun dengan terlalu ekstensif tanpa tahapan eksekusi yang nyata namanya akan berubah menjadi mimpi. Sebagai catatan tulisan ini dibuat tanpa dasar apa pun. Hanya curahan pemikiran penulis sebagai seorang perencana gagal yang merencanakan banyak hal namun takut ketika harus mengeksekusinya. Life is too precious to be nothing. Just think you can get what you want, and you get it.

5 thoughts on “Perencana vs Orang Spontan

  1. Bambang berkata:

    salam kenal ya sebelumnnya…saya sangat tertarik sekali dengan tulisan ini benar apa yang anda tulis di atas bahwa terlalu banyak berencana terlalu susah kita untuk mengesekusi rencana yang kita inginkan..sekarang saya juga merasakan rencana saya atau cita2 say hanya jadi sebuah impian yang tak pasti kapan itu akan terjadi…

  2. moh mrt berkata:

    nice one gan… spontan antara insting dan kemampuan mengambil keputusan dpada isaat sedikit resource … waduh gan… lu kudu baca buku Blink by Malcolm Gladwell… menarik juga itu ttg spontanitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s