Love, Passion and Desperate

Awal agustus yang monoton. Beberapa hari ini aku hampir setiap hari bertengkar dengan Iwed. Secara dangkal tiba-tiba aku ingin mengambil kesimpulan bahwa love is close to desperate. Cinta itu sangat dekat dengan keputusasaan. Di sisi lain, tentunya tanpa perlu pembenaran yang berlebihan, banyak orang akan mengiyakan bahwa love is closer to passion. Banyak dari kita yang sulit membedakan mana cinta mana nafsu. Cinta adalah short pleasure long time pain. Cinta itu menyebalkan. Sejenak aku ingin melupakan cinta dan menikmati kesendirian. Namun aku takut ketika dalam kesendirian aku akan kembali merindukan keberadaannya.

Cinta itu memadukan dua perbedaan. Kompromi akan meredakan perbedaan dan menunjukan ada banyak keindahan dari setiap hal yang berbeda. Egoisme akan membuat perbedaan layaknya borok yang menjijikan. Sayangnya lebih banyak egoisme yang muncul ketimbang kompromi ketika ada dua kepala, satu wanita dan satu pria. Egoisme itulah yang membawa banyak perceraian suami istri, pertengkaran sepasang kekasih yang kekanak-kanakan.

Dari semua yang aku alami tiba-tiba aku merasa takut untuk jatuh cinta. Aku takut sakit dan takut menyakiti. Aku pun mulai membenarkan teori untuk tidak terburu-buru menikah. Bahagiakan dulu keluarga, tumpuk materi setinggi gunung, lakukan seleksi pendamping hidup sekritis mungkin. Sehingga aku akan cukup yakin menemukan pasangan paling ideal dan meminimalisir kemungkitan disakiti dan menyakiti persaan orang. Beberapa sahabat akhwat dan ukhti di luar sana akan berteriak “goblok” dan langsung sinis. Namun kawan, kalian tidak ada di posisi aku. Seorang laki-laki kesepian yang tidak punya panutan dan sering berjalan dalam kebingungan. Sering kali aku membanggakan diri sebagai orang yang bervisi maju, banyak keinginan dan kemauan tapi tiba-tiba kini aku merasa rapuh di dalam dan kosong.

Aku ingin terdiam sejenak, memandang matahari yang terbenam di horizon di pinggir pantai. Melihat bintang gemerlap di langit yang bersih. Putus asa bukanlah sikap yang benar. Setiap kita memiliki kompas yang tajam menunjukah arah untuk bersikap dan berlaku. Kompas itu adalah hati. Ketika kosong dan rapuh dengarkanlah hatimu karena fitrahnya hati selalu membawa kita ke arah yang benar. Cinta itu indah. Keburukan cinta itu hanyalah perlakuan yang salah dari manipulasi yang tidak benar. Aku selalu mencintainya dengan tulus tanpa ada pamrih apa pun.

2 thoughts on “Love, Passion and Desperate

  1. ian berkata:

    jangan pernah mengharapkan sesuatu yang sempurna,tapi coba merubah diri dengan sugesti, sesungguhnya tanpa perbedaan,perdebatan,perselisihan hidup ini lebih membosankan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s