Komparasi Jomplangisme Virgin 2: Ini Film Porno Vs Ketika Cinta Bertasbih

Sebuah judul yang sangat aneh ya. Namun sejak kemarin benar-benar gemas ingin menulis topik ini.

Post ini mencoba mengulas singkat 2 film Indonesia terakhir yang sempat saya tonton. Pertama Virgin 2: Ini Film Porno (tau kan tagline sebenarnya), saya tonton malam minggu lalu di Cijantung. Kedua, Ketika Cinta Bertasbih. Baru saja saya liat tadi siang di Cibubur Junction. Dari dua judul tersebut saya harap dapat dipahami kata komparasi dan jomplangisme di atas.🙂 Karena 2 film tersebut benar-benar jomplang. Absolutely sh*t vs absolutely good.

Kita mulai dengan Virgin 2. Satu-satunya alasan yang membuat saya masuk teater yang memutar film ini adalah paksaan sahabat dekat saya yang penasaran dengan kisah film tersebut. Hitung-hitung ingin melihat seberapa sampah film-film model ini, akhirnya saya ikuti juga ajakan kawan dekat saya tersebut. Setelah keluar teater, ternyata asumsi saya salah. Film itu tidak rusak kok. Namun lebih rusak 1000x dari perkiraan saya.😀 Ulasan singkat yang cukup tajam namun tajam mengenai mengenai film ini bisa dilihat di sini.

Saya sangat setuju dengan pendapat di blog cebongipiet. Mengajarkan tidak melakukan hal-hal tidak benar, misalnya mengajarkan tidak melakukan pergaulan bebas, free sex dan narkotika melalui tayangan yang justru menunjukan semua hal itu adalah yang sangat klise. Mengajarkan hal yang baik haruslah melalui tayangan yang baik. Mengekspos keburukan justru membuka kepenasaran generasi-generasi yang masih muda untuk mencoba alih-alih untuk menghindari. Oleh karena itu saya ganti tagline Virgin 2: Bukan Film Porno menjadi Virgin 2: Ini Film Porno. Tagline yang sangat tidak mutu dan dilecehkan di banyak forum. Bagaimana tidak, film ini masih sangat banyak menunjukan keseksian tidak jelas dari artis-artis muda malang. Kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan, bunuh diri, narkotika dengan inti cerita dan pesan moral yang nol besar. Nilai 1 bintang dari 5 bintang pun tidak sama sekali layak untuk film ini. Nilainya cukup nol besar saja. Jadi untuk para produser film berkocek besar. Sadarlah untuk tidak sekedar mengharap keuntung komersial dengan menghiraukan tujuan ideal dari sebuah karya yang akan ditonton masyarakat. Buatlah film-film berkualitas dengan pesan moral yang baik. Film sukses tidak selalu harus menceritakan tentang sesuatu yang tidak baik. Film dengan konten berbobot pun bisa menjadi sebuah produk yang sukses. Seperti ulasan untuk film berikutnya.

Ketika Cinta Bertasbih adalah karya lain dari Habiburahman El Shirazy yang juga difilmkan setelah film sebelumnya yang sangat sukses Ayat-Ayat Cinta. Di tengah gempuran film-film buruk dengan tema-tema klenik dan atau seks, Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih mampu membuktikan bahwa film bermuatan moral positif pun bisa sukses bila digarap dengan baik.

Secara pribadi saya lebih menyukai Ketika Cinta Bertasbih dibanding Ayat-Ayat Cinta. Ada sangat banyak sentilan-sentilan moral yang mengarahkan namun tidak menggurui. Di tengah-tengah banyak kisah-kisah positif penonton masih sempat dihibur dengan potongan-potongan humor yang lucu namun tidak garing. Beberapa ulasan mungkin banyak membahas masih ada kekurangan-kekurangan dari sisi sinematografi, akting pendukung film yang terlalu kaku dan hal-hal antah berantah lainnya. Namun bagi penonton awam seperti saya, tayangan sekitar 120 menit yang saya saksikan tadi sangat luar biasa. Cukup layak untuk saya nobatkan sebagai film terbaik yang saya tonton di tahun 2009 ini bahkan mengalahkan Star Trek sekalipun. Meski agak pegal juga ketika di akhir film tulisan To Continued sangat membuat gemas. Tinggal kita nantikan saja seperti apa kisah lanjutan film ini. Untuk review detail dari 2 film ini dapat dicari di tempat lain. Post ini hanyalah ungkapan kegemasan mengenai Jomplangisme tayangan-tayangan sebagai corong yang dapat menjadi kandidat ideal untuk dakwah hal-hal kebaikan. Akhir kata, semoga berkenan.

3 thoughts on “Komparasi Jomplangisme Virgin 2: Ini Film Porno Vs Ketika Cinta Bertasbih

  1. reNdHiE berkata:

    Yah….tergantung lah semua itu..Yang penting mulai dr diri sendiri dululah….Karena Imajinasi setiap manusia takkan bisa untk di atur….Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s