Marriage

Rabu 15 April lalu, saya mengambil cuti pertama sejak mulai bekerja Juli 2008. Pada hari tersebut saya harus menghadiri pesta pernikahan sepupu saya. Hal yang menyenangkan bisa menghadiri acara-acara pernikahan keluarga semacam itu. Pertama itu bisa menjadi kesempatan silaturahmi. Kedua bisa menjadi momen perbaikan gizi, karena ada banyak makanan. Ketiga menjadi motivator untuk segera nikah juga. Keempat menjadi kesempatan bertemu dengan orang banyak. Paling tidak bisa menambah kenalan baru.

Pesta dilangsungkan di Cisarua Bogor. Tempat yang sudah masuk kawasan puncak. Sangat semrawut di hari libur namun sangat sepi di hari kerja. Jadi bagi yang ingin mencari waktu yang menyenangkan untuk liburan ke Puncak, pergilah di weekdays, bukan weekends.

Bagian paling menarik dari setiap acara pernikahan adalah ijab kabul. Di sanalah sebuah prosesi ikat janji dilakukan. Sehidup semati, saat susah maupun senang. Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya pun akan mendapat giliran. Tinggal menanti waktu persisnya dan pasangannya. Hahaha.. Buat yang mencari cowok idaman semisal saya, casting masih dibuka setiap saat. Hehehe..

Kembali ke masalah manfaat pernikanan. Dengan menghadiri pernikahan tersebut, saya kembali bisa bertemu dengan keluarga besar. Biasanya kumpul-kumpul hanya dilakukan ketika lebaran. Paman, bibi, uwak, keponakan, sepupu, kakek, nenek, buyut semua berkumpul bersama.

Manfaat kedua adalah makan-makan. Sebenarnya sampai detik ini saya sering heran. Saya adalah tipikal orang yang doyan makan. Teman saya di kantor sering menyindir, “Jon itu makannya ga banyak. Tapi, frekuensinya sering banget.” Jadi intinya sama aja. Sepanjang hari ngunyah terus. Keheranannya adalah saya susah gemuk. Mungkin ciri khas anak laki-laki. Beda dengan perempuan yang sangat mudah menggembung seperti ikan kembung. Hahaha..

Ketiga adalah masalah motivasi untuk segera menikah. Pernikahan idealnya harus disegerakan. Mengulur-ulur menikah akan mengundang banyak resiko. Itu idealnya. Namun praktiknya hal tersebut sulit dilakukan. Apalagi untuk karakter keluarga-keluarga kelas B seperti saya. Secara personal sebenarnya tidak ada pernyataan langsung dari orang tua saya. Namun justru dari paman, bibi dan uwak pernyataan keluar. “Jon, kamu jangan nikah buru-buru. Tunggu sampai mapan. Bahagiakan orang tua dulu.” Kira-kira seperti itu. Agak membuat gamang juga sih. Yah jalani sajalah. Lagi pula toh, sampai detik ini saya masih belum menemukan putri impian mendekati ideal yang akan saya bahagiakan dalam setiap detik hidupnya.

Keempat adalah memperluas networking. Hahaha.. Ga segitunya juga sih. Siapa tahu bisa bertemu rekanan bisnis baru. Hihihi.. Ga mungkin sih. Yah ketemu dengan keluarga-keluarga jauh. Terkadang keluarga yang bahkan kita tidak tau bahwa ada ikatan persaudaraan diantara kita.

Itulah pernikahan. Sebuah momen yang indah. Momen yang akan saya tuju satu waktu nanti.

2 thoughts on “Marriage

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s