Imperfectionist

Satu hal terpenting yang sudah saya sadari sejak lama, namun belum menemukan jalan terbaik dalam meresponnya adalah mengenai level kepercayaan diri saya. Saya adalah yang agak kurang pede, agak tertutup, kaku, kikuk, trauma akan penolakan, pendiam, terkesan angkuh, mudah gugup dan grogi. Demikianlah sebuah kebetulan yang tidak baik, lingkungan menumbuhkan saya menjadi individu seperti itu. Menyeselkah, sedihkah, putus asakah? Tidak demikian juga. Sebuah kekurangan hadir pada diri manusia bukan menjadi arti bahwa tidak bisa diperbaiki. Justru dengan adanya kekurangan tersebut dapat membuat kita dapat mengenal diri secara lebih dalam dan memecahkan serta mengobati kekurangan tersebut untuk menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya.

Dari berbagai hal yang pernah dieksplorasi manusia, ternyata ada hal utama yang tidak pernah selesai diketahui semua detailnya hingga kini. Manusia konon sudah pernah ke bulan, sudah menggali jauh ke bawah tanah, sudah menyelam ke palung terdalam tapi dari semua itu, ternyata kebanyakan manusia masih belum terlalu mengenal dirinya dengan baik. Idealnya orang yang mengenal diri dengan baik dapat memberi kontrol penuh terhadap tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian orang-orang seperti itu akan lebih bahagia dan lebih sukses.

Nilai utama manusia ada pada hati dan pikirannya. Hati akan menuntun manusia membedakan mana yang benar dan salah. Pikiran akan menentukan jalan mana yang akan menghantarkannya ke tujuan. Menuju tujuan bisa melalui jalan benar dan jalan salah. Oleh karena itu, idealnya hati dan pikiran harus sinkron. Dengan hati dan pikiran manusia sudah memiliki semua hal yang diperlukan untuk menghantarkan dirinya kemanapun dan mewujudkan tujuan apa pun.

2 thoughts on “Imperfectionist

  1. lamida berkata:

    @helmy
    Menurut saya, caranya evaluasi diri, Mas Helmy. Ambil satu waktu di mana kita bisa benar-benar bisa merenung secara mendalam. Evaluasilah diri kita pada waktu tersebut. Apa saja hal2 kurang baik yang masih sering kita lakukan, sikap2 buruk, kebiasaan2 jelek dan sebagainya.

    Kemudian, pendekatan ini harus diimbangi dengan meminta evaluasi orang lain. Misalnya teman dekat atau saudara. Minta kepada mereka secara jujur menilai diri kita. Sebab menilai diri sendiri adalah hal yang sulit. Seringkali kita tidak sadar akan kelemahan2 atau keburukan2 diri sendiri.
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s