Narita

Februari 2011: Pesawat pun lepas landas dengan mulus dari Soekarno Hatta. Seperti dalam tabung waktu, pikiran saya berkelebat ke sana ke mari. Ber-flahback ke belakang, menerawang ke masa depan. Kurang dari beberapa jam, setelah transit, saya pun akan menjejakan kaki di Narita. Banyak sekali hal bermula dari mimpi. Dengan dorongan mewujudkan mimpi, beberapa orang bisa kuat bekerja keras mengejar dan menggeluti prosesnya. Tidak semua hal mudah juga hampir tidak ada hal yang mustahil.

Oke quote di atas hanyalah khayalan saya. Namun saya yakin dengan konsistensi dan kerja keras, khayalan dan mimpi apa pun pasti dapat diwujudkan.

Setelah beberapa waktu sempat terlupa, saya ingin kembali membangkitkan semangat untuk melanjutkan kuliah. Pada dasarnya tidak ada yang spesial dengan gelar kependidikan. Apalagi, saat ini sering terjadi ironi yang nyata ketika banyak orang ‘bergelar’ yang tidak memberikan sumbangsih apa pun dari gelar yang mereka miliki. Mungkin termasuk saya saat ini. Yang lebih sadis dan memalukan, beberapa orang bejat tanpa malu membeli gelar pendidikan demi mencapai tujuan-tujuannya. Menyedihkan dan memalukan.

Satu hal yang saya cari dalam perjalanan ini adalah menikmati proses pencarian, melihat, mempelajari, meneliti, memahami, menemukan dan mengamalkan dalam alur yang disebut belajar. Gelar adalah ekses dari proses tersebut yang sifatnya tidak terlalu fundamental. Sejak dulu ada sebuah kesenangan untuk bisa mempelajari sesuatu yang baru. Belajar tanpa paksaan namun menikmatinya sebagai sebuah aktivitas yang menyenangkan dan bahkan tercandukan. Ilmu bagi saya adalah seperti air. Di mana pada banyak waktu dan tempat saya sering merasa haus untuk bisa mereguknya.

Semua tempat adalah dapat menjadi ruang kita untuk mempelajari sesuatu. Alam pun bisa mengajarkan banyak hal kepada manusia.Namun, di dunia yang serba formal, pendidikan formal memang diperlukan. Selain sekedar masalah formalitas, pendidikan formal pun hadir dengan tujuan pengorganisiran yang lebih terstruktur. Penyediaan kurikulum yang baku, sertifikasi, pengorganisiran pengajaran dibutuhkan dan dapat tersedia karena tuntutan keformalitasan tadi. Jadi, meski tadi saya mengatakan dari alam pun bisa belajar banyak hal, mempejari sains modern, teknologi terbaru, juga diskusi-diskusi berat ilmu sosial akan lebih logis dilakukan dalam suatu institusi pendidikan formal semisal universitas.

Sebagai negara merdeka, Indonesia pun sudah ‘mencoba’ menyediakan fasilitas pendidikan bagi warga negaranya mulai dari tingkat dasar hingga pergurusan tinggi. Namun dalam tahap tertentu, saat mencoba berbicara kualitas, ada nilai-nilai tertentu yang dianggap masih kurang dari institusi pendidikan di Indonesia. Tentunya pendapat ini bukan bermaksud menunjukan ketidaknasionalisan diri. Untuk mengantisipasi hal ini, banyak individu yang kemudian lebih tertarik untuk melanjutkan studi ke luar dari Indonesia. Hal itu dilakukan diantaranya untuk mencari level kualitas yang tadi diharapkan.Toh jika melihat dari negara-negara maju lain, pada prosesnya menuju maju, mereka pun banyak mengirim anak-anak bangsa mereka ke luar negeri untuk belajar, lalu kembali untuk membangun negaranya. Keinginan untuk mengecap rasa menyebrang lintas batas negara untuk menuntut ilmu di negeri orang pun sudah menjadi salah satu mimpi terbesar saya sejak lama.

Keinginan di atas, jika dilihat sekilas seakan seperti mimpi yang dangkal. Merasakan menjejakan kaki di negeri orang. Melihat kultur mereka, mengenal keanekaragaman yang ada, mempelajari banyak hal, merasakan dinginnya udara saat salju turun dan sebagainya. Namun ‘kedangkalan’ itulah apa adanya saya. Secara sok idealis, ada juga harapan untuk menjadi individu yang dapat memberikan sumbangsih, meskipun kecil pada orang-orang di sekitar. Menjadi peneliti yang menemukan sesuatu yang bermanfaat. Sekaligus menjadi pengajar yang dapat menjelaskan dengan mudah, seusatu yang sulit. Simplify the complex thing and not complicate the simple thing.

Dari luasnya bola dunia dan ada ratusan negera di atasnya, mimpi ‘dangkal’ saya adalah untuk belajar ke Jepang. Sebuah negeri yang memang luar biasa. Pencapaian ilmu pengetahuannya, teknologinya, kekayaan kulturnya, kedisiplinannya dan segala lainnya. Akan menjadi proses yang tidak mudah. Namun, seperti telah tersirat di atas, tidak ada hal baik yang mudah dan tidak ada hal yang mustahil jika diusahakan. Ketika banyak hal berawal dari keinginan, konsistensi dan kesabaran dalam kerja keras mewujudkan keinginan akan menjadi kendaraan yang mampu menghantarkan kemanapun keinginan kita berada.

One thought on “Narita

  1. Zainal.abdi,SE berkata:

    Saya pikir Yamaha Vixion dari disain lebih menuju ke futuristik serta model rangka yang bagus,kekurangan: pada Yamaha Vixion adalah di kaki belakang dan depan agak kurus sehingga tidak serasi dengan body motor yang futuristik, dan nantinya apabila ingin mengeluarkan yamaha vixion 2 semoga di perhatikan kapasitas mesin untuk ditambah serta rem cakram pada roda depan di perbesar diameternya dan rem cakram roda belakang, pendapat saya untuk penampilan body dan rangka Yamaha Vixion sudah cukup bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s