Tentang Cinta Sejati

Jumat lalu saya mengunjungi seorang kawan sepulang dari kantor. Sudah hampir sejak sebulan lalu ingin mengunjunginya. Baru kesampaian kemarin. Seperti biasa, selalu ada hal yang bisa dipetik setiap bertemu dengan orang.

Kawan saya tersebut adalah seorang wanita. Katakanlah namanya Siska (bukan nama sebenarnya). Temen kampus. Saya sudah lulus, sementara ia sedang menargetkan diri untuk bisa lulus semester ini. Maklum, ia memang sangat sibuk. Secara jujur, tujuan awal saya mengunjunginya adalah untuk mencari teman berbagi dan curhat. Anak muda jaman sekarang (ternyata gw memang udah tua ya) bilang istilahnya PDKT.

Selepas magrib saya sampai di rumah Siska. Orangnya sangat ramah sekali dan menyambut dengan sangat baik. Obrolan pun dimulai dari masalah kuliahnya, kerjaan saya, masalah target hidup, cita-cita, kawan-kawan dan sebagainya. Selama ngobrol itu pula hati ini terus bertanya-tanya is she the one that I have been searching for?

Semuanya berubah menjadi sangat mengejutkan ketika sekitar jam 8 lewat seorang laki-laki datang ke rumah. Oleh Siska pria itu pun dikenalkan kepada saya. “Oh Jon yang kerja di Kebayoran itu ya?” Kata pria tersebut seakan-akan sudah banyak mengetahui seluk beluk saya. Ngobrol-ngobrol sedikit, pria itu pun berpamitan pulang. Setelah lelaki itu pergi, saya pun bertanya pada Siska. “Siapa? Sodaramu?” Tanya saya.

“Bukan. Cowok gue.” Kata Siska.

Wakzsszs! Kalau di film kartun mungkin dagu saya sudah jatuh ke lantai dan mata meloncat keluar. “Apa!” Teriak saya dalam hati. Sambil saya mencari akal agar tidak mati gaya. Untung saja tadi saya belum mulai ofensif.

“Dijodohin sama orang tua gw. Akhir April lalu dia udah ngelamar. Insya Allah setelah wisuda mau segera nikah” Kira-kira demikian Siska lanjut berbicara.

Agar tidak semakin kikuk, saya pun berusaha berpura-pura tenang sambil sebisa mungkin melanjutkan obrolan. Padalahal di dalam saya sudah ingin meledak dan merasa seperti orang goblok. Benar-benar goblok.Bertandang ke rumah perempuan yang sudah dilamar orang. Bertemu dengan calon suaminya. Bahkan tadi saya bertemu dengan ayah Siska juga.

“Lo sendiri gimana Jon? Kapan nikah?” Tanya Siska.

Saya diam sejenak. “Kalo gw kayaknya masih lama. Nunggu agak mapan dulu… Punya rumah. Punya kendaraan. Punya tabungan.”

“Oh gitu. Tapi itu bisa jadi ujian loh, Jon.”

“Maksudnya?”

“Yah, nanti lo harus bisa meyakinkan benar. Apakah cewek yang nanti elo pilih ketika lo udah mapan, memang benar mencintai lo. Atau justru hanya sekedar mencintai harta elo.” Saya pun agak terkesiap. Kami
masih terus berbicara beberapa hal, hingga akhirnya saya pamit pulang.

Sepanjang perjalanan pulang saya pun terus berpikir. Apa sih sebenarnya definisi dari cinta? Apa sih cinta sejati itu? Yang pasti itu adalah sesuatu yang menerabas batas fisik dan materi. Bukan sekedar diukur dari keelokan wajah. Kemewahan harta. Dalam dinginnya malam saat perjalanan pulang saya pun terus bertanya. Adakah cinta sejati saya di luar sana? Yang menerima saya apa adanya. Mau menjadi komplementer untuk saling mengisi dan mengingatkan. Saya tidak perlu mencari jawabannya. Karena sayalah, mungkin, yang akan menentukan jawabannya.

3 thoughts on “Tentang Cinta Sejati

  1. Helmy berkata:

    Bung John, saya senang dengan posting2 Anda. Ringan dan menghibur. Kebetulan posting Anda kali ini mirip2 dengan pencarian cinta saya.

    Good job!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s