Capailah, selangkah demi selangkah

Pagi ini tiba-tiba saya berpikir, dalam beberapa tahun dan bulan belakangan ternyata kehidupan saya tidak terlalu banyak bergerak maju. Saya mungkin berhasil lulus kuliah setelah 4 setengah tahun yang melelahkan. Saya mungkin berhasil mendapat rutinitas kerja tepat 4 bulan setelah wisuda. Saya mungkin berhasil membeli laptop dengan uang sendiri. Saya mungkin berhasil berangkat 2 kali ke Surabaya untuk mengikute kontes software dan elektronika meski ternyata gagal pula 2 kali untuk meraih gelar juara harapan sekalipun. Saya kembali tersadar saya belum kemana-mana.

Manusia pasti mempunyai mimpi. Bila ada yang tidak barangkali taraf kemanusiaannya harus dipertanyakan. Seperti yang pernah saya tulis juga banyak sekali hal yang dimulai dari mimpi. Semua pencapaian yang pernah dilakukan manusia pada awalnya juga adalah mimpi.

Saya secara alamiah adalah pemimpi yang ekstensif dan sebenarnya pemimpi yang kronis dan lebih sesuai disebut penghayal. Bedanya, pemimpi memiliki keinginan mencapai sesuatu dan bersedia membayar harga untuk menuju ke sana. Penghayal juga memiliki keinginan mencapai sesuatu namun ketika tahu jumlah harga yang harus dibayar ia pun mundur sambil terus menerawang pada khayalan-khayalannya.

Banyak sekali keinginan yang saya miliki. Banyak sekali mimpi yang saya punya.Ingin ini, itu dan sebagainya. Namun ada masanya ketika usaha diperlukan untuk menggapai tujuan-tujuan itu, saya bersikap lemah pada diri sendiri. Memilih tidur daripada belajar. Memilih mengerjakan yang lain daripada menyusun draft proposal. Melakukan hal yang tidak jelas daripada belajar bahasa. Intinya saya masih terllau permisif pada diri sendiri. Padahal saya pun yakin dengan sangat bahwa untuk mencapai segala sesuatu butuh pengorbanan.

Faktor pertama menghambat pemimpi mencapai tujuan adalah tadi, tidak mau membayar harga. Faktor keduanya adalah ketidaksabaran. Sangat sering kita menginginkan sesuatu sekaligus. Ingin punya ini, punya itu, bisa ini, bisa itu. Ingin semuanya tercapai secara serempak, instan dan mudah. Pada saat baru membeli buku ingin bisa menguasai isi buku itu dengan cepat. Dibaca dengan ala kadarnya halaman demi halaman dengan harapan bisa mengerti semua isi buku itu secepat mungkin. Ingin bisa menguasai bahasa asing sekaligus juga. Bahasa Inggris pun belum lancar, sudah ingin bisa bahasa ini, bahasa itu dan bahasa-bahasa yang lain. Kamuspun sudah bertumpuk, buku tata bahasa berserakan, semuanya terabaikan tak sempat tersentuh.

Pagi ini saya pun tersadar. Keinginan jelas diperlukan. Kita pun harus siap melakukan pengorbanan. Dalam menjalaninya dibutuhkan kesabaran. Capailah apapun itu selangkah demi selangkah. Kita pun akan tercengang saat suatu masa di depan dan menengok ke belakang ternyata kita sudah bergerak maju dari sebelumnya.

Satu respons untuk “Capailah, selangkah demi selangkah

  1. lulu berkata:

    kaifa haluka? wah kayanya tulisannya seru juga neh..makasih ye dah bikin spirit…bener..bener..hidup itu perlu usaha dan sabar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s