Hore gue lulus kuliah! So what’s next?

Penyelesaian studi di perguruan tinggi adalah hal yang sangat membanggakan. Bagaimana tidak, hanya sedikit sekali persentase warga negara di Indonesia yang dapat mengecap indahnya pendidikan tinggi. Biaya yang semakin melambung tinggi seperti balon helium, semakin membatasi orang-orang dengan cita-cita hebat namun dengan tekad yang belum terlalu kuat. Sebab, tidak akan pernah ada halangan bagi orang yang bertekad kuat.

Wisuda adalah sebuah kejayaan. Kejayaan melawan kurikulum. Artinya kemenangan menyelesaikan kredit mata kuliah setelah lelah menghutang sks demi sks. Kejayaan memenangkan penyelesaian skripsi yang serba berat dan melelahkan. Kemenangan melakukan negosiasi cerdas kepada dosen pembimbing skripsi. Kemenangan mengajukan argumentasi gemilang saat sidang akhir pada dosen penguji. Kejayaan penyetoran uang semesteran. Akhirnya semestar depan aku gak harus bayaran lagi. Kejayaan untuk memberikan kebanggaan terbesar untuk orang tua. Harus diakui peran pendidikan sebagai wahana mobilitas sosial masih terus dianut mayoritas masyarakat. Sangat logis dan wajar untuk terus dianut.

Resepsi bertoga akhirnya selesai dilakukan saat wisuda. Ketika matahari terbit keesokan hari, kita pun tersadar, aku bukan mahasiswa lagi. Kalau bukan mahasiswa dan belum berkerja, lalu apa namanya? Pengangguran dong. Tidak!!!

He…he…he…. Menjadi mimpi banyak orang untuk bisa hidup mapan. Meski cara paling efektif sekaligus paling susah untuk bisa hidup mapan adalah dengan cara berwirausaha, jarang orang mengawali karir mereka di bidang tersebut pasca lulus kuliah. Bekerja dengan orang lain adalah pilihan yang lebih mudah dan masuk akal. Sejak sabtu minggu pertama sejak aku diwisuda dengan sangat rajinnya aku menskimming (baca secara cepat) kolom karir di harian kompas. Membrowse website-website katalog lapangan kerja seperti jobsdb.com. Agak sedikit mengingkari prinsip aku semasa kuliah juga sih. Dulu ngotot banget soalnya tidak mau bekerja dengan orang lain. Kalau nggak ngajar ya wirausaha. Ah tapi biarlah hidup ini mengalir. Perencanaan mutlak perlu dilakukan, tapi mari nikmati saja alur hidup sambil terus berikhtiar tanpa perlu terlalu bersikap over keras terhadap diri sendiri.

Setelah proses pencaraian di bulan-bulan pertama pasca wisuda, minggu-minggu selanjutnya adalah proses pengiriman berkas-berkas lamaran. Ada yang via pos ada yang lewat email. Rekor rentengan struk pos terbanyakku adalah 8 struk. Pada waktu itu dalam satu hari aku mengirim 8 berkas ke berbagai perusahaan antah berantah. Oh ya dalam masa-masa itu juga tanpa bosan terus menerus aku mempercantik Curriculum Vitae. Inilah space iklan seorang pencari kerja terhadap penyedia kerja yang harus terus diperbagus.

Rentang bulan berikutnya adalah masa panggilan-panggilan waancara dan tes tertulis. Saking banyaknya aku agak lupa juga sudah berapa tempat yang disambangi. Untuk masalah wawancara yang sering menjadi momok, ternyata tidak seangker itu juga. Persiapan yang matang dan percaya diri sangat membantu proses yang banyak ditakuti orang-orang tersebut. Yang mungkin agak berat justru adalah psikotest. Menurut pengalamanku, psikotest kerja sangat nasib oriented. Kalau gak nasib, susah lulusnya :). Ah tapi faktor persiapan cukup berpengaruh juga sih. Coba saja beli buku-buku psikotest yang banyak tersedia di toko buku sambil terus berlatih dan berkawan dengan oraqng lulusan jurusan psikologi pasti sangat membantu.

Faktor-faktor utama diterima kerja yang berhasil saya identifikasi diantaranya adalah skill, asal perguruan tinggi, kemampuan bahasa inggris, kemampuan team work dan nasib. Dari beberapa faktor tersebut secara mengherankan saya berkeyakinan bahwa nasib memegang peranan yang cukup penting. Bukan berarti membiasakan diri bermental pasrah pada nasib, namun setelah segala ikhtiar, memasarkan skill ketetapan terakhirnya adalah wewenang mutlak Allah Swt. Doa pun pada akhirnya memegang peranan penting dalam setiap langkah-langkah menggapai cita-cita kita. La wong dikasih kesempatan sama Allah Swt untuk meminta yah harus kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan adab dan ketentuan yang benar.

Lulus kuliah adalah mimpi indah sekaligus mimpi buruk. Mimpi indahnya adalah uraian saya di paragraf pertama tadi. Mimpi buruknya adalah kita harus siap menerima status pengangguran dan berebut lahan pekerjaan yang serba terbatas. Tapi tidak perlu dijadikan beban yang berlebihan pula. Statistik masa menganggur maksimal sarjana pasca lulus kuliah di Indonesia adalah sekitar 2 tahun. Berdoa dan berusaha saja agar bisa memangkas masa pengangguran secepat mungkin. Dengan skill yang baik, ikhtiar maksimal, dan doa telaten aku yakin setiap orang bisa mencapai hal tersebut. Seperti aku sekarang nih, tahap-tahap akhir job offer. Tapi ada ganjalan dikit di medical test. Mudah-mudahan bisa dituntaskan segera.

2 respons untuk ‘Hore gue lulus kuliah! So what’s next?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s