Pendidikan dan Ijasah

Banyak dari kita sering melihat penyelenggaraan bursa-bursa kerja di berbagai tempat di kota-kota besar di Indonesia. Orang-orang berdesakan bahkan hingga kesesakan, kehabisan nafas berdesak-desakan. Pertanyaan besar yang muncul dalam kepala saya terhadap pemandangan tadi adalah, sebenarnya apa fungsi dari pendidikan? Melahirkan tenaga kerja? Atau melahirkan pengangguran? Pengangguran yang berharap dengan surat sakti bernama ijazah, dapat memperoleh topangan hidup dari orang dermawan yang mau mempekerjakannya, meski bila ditelusuri ternyata ia pun lulus kuliah dengan skill yang pas-pasan.

Tulisan ini dibuat tidak bermaksud untuk menyerang atau mengkritik secara kasar, namun mengajak kita semua untuk dapat merenung dan memaknai arti dari pendidikan dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Renungan bagi para lulusan lembaga pendidikan terutama pendidikan tinggi. Renungan bagi para sarjana-sarjana baru yang harus siap menyongsong masa depan dan menanggung tanggung jawab dalam membangun bangsa dan negaranya.

Selama kuliah efektif 7 semester ditambah penyelesaian skripsi selama 2 semester, saya mendapat banyak mata kuliah mengenai pendidikan karena saya sendiri kuliah di jurusan elektronika kependidikan. Tapi selayaknya mahasiswa tidak ideal lainnya, sebagian besar ilmu perkuliah teoritis yang telah saya pelajari menguap seperti air yang diteteskan di panci panas. Paling tidak saya masih mengingat sedikit definisi pendidikan dalam UU Sisdiknas tahun 2002. Pendidikan adalah usaha sadar dan terncana untuk bla.. bla.. bla. Pendidikan adalah proses bung, bukan tujuan. Proses adalah jantung dari pendidikan, sementara tujuan adalah hal yang opsional karena sebenarnya pendidikan sendiri tidak akan pernah selesai dan tiba di tujuan mana pun. Ijasah hanyalah label yang sebenarnya secara pragmatis kasar bisa saja dihilangkan untuk kepraktisan pendidikan ideal. Ijasah secara sederhana, mungkin dijadikan tujuan oleh banyak orang. Saya sendiri tidak sepakat dengan itu. Secara lebih moderat, saya lebih senang memandang ijasah sebagai check point dimana kita harus terus melanjutkan balap ke lap-lap berikutnya. Penghilangan ijasah nampaknya juga hal yang terlalu ekstrim dan tidak disarankan direalisasikan di dunia yang penuh birokratisisme saat ini dimana hitam di atas putih adalah segalanya meski hitam di atas putih itu dibuat dengan pemalsuan.

Bersikap moderat mungkin pilihan yang paling tepat. Tidak terlalu ekstrim tapi juga tidak terlalu lembek. Selagi sempat enyamlah pendidikan semaksimal mungkin. Belajarlah untuk tujuan bukan sekedar mengenyangkan diri sendiri kelak, namun bagaimana kita pun bisa memikirkan orang-orang lain di sekitar kita. Perdalami segala ilmu pahami pengetahuan dan amalkan setiap apa yang telah diperoleh. Hingga pada saat masa pendidikan selesai ijasah opsional dan visi yang lebih abadi pun bisa diperoleh. Visi untuk membaktikan diri untuk orang lain. Memberi makan yang kelaparan. Memberi baju untuk yang bertelanjang.

Sejenak bertanya pada diri, sudahkah saya melakukan hal-hal yang saya kicaukan di atas. Saya akui belum, tapi saya mencoba dan tidak akan pernah berhenti mencoba. Biarlah seperti khatib di shalat jumat, “saya berwasiat pada diri saya sendiri dan hadirin sekalian…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s