LCEN Proposal Submition and Never Give Up Philosophy

Dear day, really tiring day. Hari yang melelahkan. Tapi lumayan juga, saya belajar banyak hal hari ini.

 

Akhirnya, jam 9 malam tadi saya berhasil mengirimkan proposal Lomba Cipta Elektroteknik Nasional (LCEN) 2008 melalui Tiki di jalan Pemuda Jakarta Timur. Padahal tadi pagi sudah agak putus asa juga dan cenderung untuk membatalkan partisipasi. Beruntung my pall memberikan dorongan yang cukup membuat saya bersemangat lagi unutm menuntaskan dan mengirim proposal tadi. Dorongannya kurang lebih: “Never say to give up?”

 

LCEN adalah kontes tahunan realisasi karya di bidang elektronika yang diselenggarakan Kampus ITS di Surabaya. Tentu saja ajang tersebut adalah kesempatan untuk bersaing menunjukan prestasi dan mengharumkan nama kampus. Sejak pembukaan lomba sekitar Oktober lalu saya sudah bersemangat untuk ikut berpartisipasi. Namun karena fokus di skripsi dulu, saya baru bisa meluangkan waktu beberapa hari terakhir. Hari tadi mungkin adalah salah satu dari kegilaan dari hari-hari saya yang selalu dipenuhi kegilaan. Konsep dasar proposal sudah saya buat sejak 1 bulan lalu. Namun, saya baru mulai efektif mengetik dari tadi jam 1 siang hingga selesai dikirimkan semua berkas-berkas jam 9 malam tadi. Maka dari itu, jika salah satu dari 2 proposal lomba yang saya susun dengan rekan saya dansudah dikirimkan tadi bisa lolos sebagai finalis,…. maka…. nampaknya ….seseorang harus kawin dengan monyet.

 

Nggak deh bercanda. Hikmah paling berharga dari hari yang sangat melelahkan tadi adalah jangan pernah bosan memasang target. Realisasikanlah target dan jangan biasakan menunda pengerjaan target hingga tenggang yang terlampau mepet. Terkadang memang, mengerjakan pekerjaan dengan tenggat yang ketat sering menjadi kebiasaaan banyak orang. Tugas kuliah, PR sekolah atau pekerjaan kantor. Orang lebih senang menunda hingga mepet deadline dan tugas-tugas lain mulai menumpuk. Saat tenggat sudah sangat dekat barulah mereka panik dan mengerjakan semua secara terburu-buru dan agak serampangan. Beberapa dari mereka cukup puas dengan pekerjaan terburu-buru tadi dan terus menjadikan mengulur waktu menjadi kebiasaan. Padahal, bila sesuatu dikerjakan jauh-jauh hari sebelum batas waktunya, akan ada banyak kesempatan untuk melakukan perbaikan, ada banyak kesempatan untuk mendeteksi kesalahan ada banyak kesempatan untuk menghasilkan tugas atau pekerjaan dengan kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan mengerjakan sesuatu terburu-buru karena tenggat yang sangat ketat. Satu rule of thumb yang akan saya coba untuk mulai saya terapkan adalah perpendek target pengerjaan sesuatu hingga setengahnya. Maksudnya? Misal batas waktu pendaftaran wisuda adalah 6 bulan dari sekarang. Jangan gunakan 6 bulan sebagai target penyelesaian. tapi gunakanlah 3 bulan sebagai tenggat yang harus dipenuhi. Yakinilah seakana-akan tenggat penyelesaian yang harus dicapai adalah 3 bulan dan bulan 6 bulan. Bekerjalah sekeras mungkin untuk mencapai tenggat setengah itu, lupakan bahwa deadline sesungguhnya adalah 6 bulan. Maka, saat 3 bulan pun tiba jika kita cukup disiplin maka target pun akan benar-benar tercapai. Artinya ada 3 bulan lagi untuk melakukan perbaikan maksimal dan ada 3 bulan lagi untuk dapat dimanfaatkan mengerjakan tugas-tugas lainnya. Penghematan waktu dan akselerasi kinerja. Contoh yang sama dapat diterapakan dalam lingkup semisal pengerjaan tugas kuliah, PR, proposal lomba dan sebagainya. Ada PR minggu depan, pasang target, PR harus selesai maksimal 3 hari kedepan. Dan seterusnya. Dan harus diketahui mengerjakan sesuatu mepet tenggat, apalagi tenggatnya hanya selisih satu hari seperti saya tadi, capeknya bukan main dan hasilnya amat sangat jauh dari maksimal.

 

Satu-satunya alasan saya untuk tetap memaksakan mengirim proposal meski tahu hasilnya tidak maksimal karena pengerjaan yang terburu-buru tadi adalah sebagai bahan pembelajaran. Saya harus belajar memanfaatkan waktu dengan maksimal, tidak terlena dalam kelenggangan. Namun memanfaatkan setiap detik, setiap tarikan nafas, setiap detak jantung untuk kemanfaatan. Saya juga harus belajar untuk never say to give up tadi. Jika proposal bisa selesai dalam 6 jam. Artinya bila saya mengerjakan sejak jauh-jauh hari, pasti kualitasnya akan amat sangat maksimal. Jangan menyerah meski terkadang kita khilaf dan deadline sudah ada di pelupuk mata, kerjakan dengan maksimal seperti apa pun jadinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s