Jodoh, Cinta dan Operator Seluler

Cinta deritanya tiada akhir, ujar Pat Kay partner Sun Go Kong si kera sakti. Menarik juga statement tersebut. Pada kesempatan ini pikiran saya tiba-tiba terbesit judul posting di atas seusai menelpon teman saya di Medan.

Saya adalah seorang muslim. Dalam ajaran Islam hubungan antara pria wanita sangat diatur untuk menghindari terjadinya hal-hal yang mudharat. Oleh karena itu, aturan Islam tidak mengenal istilah pacaran. Nasib membawa saya untuk mejadi penganut aturan tersebut. Tidak berpacaran. Namun itu dilakukan bukan karena ketaatan, tapi karena nasib itu tadi. Tidak ada perempuan yang mau berpacaran dengan saya dan saya tidak terlalu agresif untuk berusaha menarik hati wanita untuk menjadi kekasih tidak formal. Barangkali saja ini adalah berkah tersembunyi. Setidaknya saya tidak harus berpusing-pusing dengan pertengkaran kekasih yang seperti anak kecil. Serta tidak perlu berpuisngh-pusing ria mengatur keuangan ketika harus memberi jajan anak orang padahal bukan kewajiban. Meski demikian saya tetap punya cukup banyak teman perempuan yang masing-masing mempunyai kesan khusus di hati. Yang lebih menariknya lagi, banyak dari mereka tinggal jauh dari lingkungan saya. Di luar kota dan bahkan di luar pulau. Thanks to technology, jarak sekarang bukanlah hal yang terlalu signifikan. Alangkah sentimentilnya percintaan orang-orang jaman dulu yang hanya bisa saling memautkan hati dari kirimin surat kertas melalui kantor pos dengan waktu berbulan-bulan.

Sekarang ada internet, ada telepon seluler dan tarif pesawat terbang pun cukup murah untuk menghantarkan orang kemana-mana di wilayah domestik. Untuk internet meski sudah menjadi barang wajib beberapa kalangan (terutama geek seperti saya) penetrasinya masih terlalu terbatas. Telepon seluler mungkin mejadi solusi komunikasi jarak jauh yang sangat bermanfaat semisal untuk percintaan. SMS sudah lama menjadi barang wajib dengan tarif murahnya yang sebenarnya ternyata harus bisa lebih murah lagi dengan isu kartel tarif SMS yang mewacana belakangan ini. Tapi SMS terlalu hambar, terbatas konteks dan bukanlah media komunikasi yang bisa mengungkapkan isi hati. Tidak ada nada, tidak ada intonasi hanya ada emoticon tidak berharga dengan kalimat-kalimat disingkat tidak karuan. Aslmkm, btw, gw kangn bgt pgn ktm, ap kbr, gw, km, gmn…. dan seterusnya. Telepon suara adalah solusi dari permasalahan keterbatasan SMS. Tapi siapapun tahu tarif seluler di Indonesia mahal bukan kepalang. Oleh karena itu juga saya sangat merindukan untuk cepat-cepat melihat realisasi turunnya tarif interkoneksi yang semoga akan merembet menurunkan tarif ritel telepon. Terutama untuk jaringan GSM, menelepon ke sesama operator pun merupakan hal yang harus dipertimbangkan mendalam bagi kelompok masyarakat dengan budget terbatas. CDMA mungkin murah tapi dianggap tidak sefleksibel GSM untuk orang yang bermobilitas tinggi lintas area dan propinsi. Dan handphone dual-on GSM-CDMA yang bagus masih berharga sangat mahal.

Namun, dibalik semua keluh kesah tadi, beberapa minggu terakhir saya sedang menikmati tarif telepon murah dari operator GSM yang saya gunakan. Sejak punya handphone sekitar 3 tahun lalu, saya nyaris tidak pernah berganti nomor dan operator. Pernah sejenak mencicipi CDMA namun berhenti karena handset CDMA-nya rusak. Dalam 3 tahun terakhir itu saya setia terus dengan Simpati dari Telkomsel. Operator seluler yang cukup besar atau mungkin yang terbesar yah. Jangkauannya cukup luas dan tarifnya cukup mahal. Tapi promo Simpati Pede sejak sekitar nopember lalu cukup menarik untuk dicermati. Dengan hanya 0.5 rupiah perdetik kita bisa menelpon ke seluruh pengguna telkomsel se-Indonesia. Lumayanlah, meski di wilayah jabodetabek tempat aktivitas saya sedikit pengguna Telkomsel, di luar Jawa cukup bayak loh pengguna Telkomsel. Jadi kan cukup banyak nomor yang bisa ditelpon saat suntuk. Dengan sekitar 3000 rupiah, saya bisa menelpon selama satu jam ke Medan, atau ke Surabaya dan bahkan ke Makasar.

Promo tersebut tentunya cukup membuat gerah operator-operator seluler lain. Yang paling ekstrim adalah yang dikeluarkan XL. Dengan iklan lucunya, “kalau ada yang murah ke semua operator gue kawin sama monyet..” kata seorang pria gendut lucu dalam iklan tersebut. Dari iklan sekilasnya, tarif yang dikenakannya adalah 0.1 rupiah per detik ke semua operator. Tapi jangan langsung bersemangat membeli perdana dan menelpon semua teman-teman yang lintas operator. Tarif ini hanya akan benar-benar murah dengan hitungan mendekati 0.1 rupiah perdetik bila nomor yang dihubungi adalah sesama XL. Untuk lintas operator tarifnya tidak murni rata-rata 0.1 rupiah perdetik ada hitung-hitungan yang harus benar-benar dicermati dan berbeda-beda dari satu wilayah ke wilayah lain. Buka saja website xl untuk aturan detailnya. Atau search saja d google untuk analisa promo xl ini, sudah banyak blog yang menulisnya. Lagi pula pastinya semua operator pun pastinya tidak mau merugi. Jadi bisa-bisanya mereka menggunakan strategi pemasaran yang efektif.

Oke, kembali ke masalah topik utama postingan ini. Apakah benar, jodoh ada kaitannya dengan penggunaan operator seluler tertentu? Bisa ya bisa tidak. Namanya juga topik yang tiba-tiba muncul di kepala saya beberapa minggu lalu ketika sedang mengendarai motor pulang kampus lalu sesampai tumah langsung menelpon teman saya di Medan. Sepasang sahabat yang memeliki kontak handphone satu operator tentunya akan lebih mudah untuk saling berkomunikasi karena tarif yang jauh lebih murah. Untuk sahabat yang berbeda operator paling-paling harus puas dengan kehambaran SMS.

Untuk menghancurkan batasan tersebut sebenarnya solusi sangat mudah loh. Beli 2 buah handphone dual GSM dan dua buah handphone dual CDMA-GSM. Empat buah handphone tersebut cukup untuk menampung 6 simcard GSM dan 2 simcard CDMA. Lalu beli kartu perdana seluler semua operator yang ada di Indonesia dan tancapkan dalam keempat handphone baru tadi. Maka batasan jodoh pun bisa dihilangkan serta peluang ta’aruf ke semua orang terbuka lebar. He.. he. He… Atau kalau ingin lebih hemat, paling tidak miliki satu handphone GSM dan satu Hnadphone CDMA. Atau handphone dual GSM-CDMA buatan china sudah ada yang cukup murah kok. Dengan modal itu tetap beli semua perdana GSM dan CDMA sepeerti di atas. Nah tinggal nanti saat diperlukan pilih simcard yang ingin digunakan dan pasang di hp, cabut yang tidajk dipakai. Sedikit repot sih, tapi kan lebih murah daripada beli 4 hp seperti tadi.

2 respons untuk ‘Jodoh, Cinta dan Operator Seluler

  1. citra Meidita berkata:

    hmmm… mau ngeborong kartu dari semua operator nh??
    saya malah nggak terlalu manfatin murahnya tarif nelpon,,karena tampaknya kalo bukan sahabat ‘banget’…ga enak juga nelpon lama-lama,,,takut mengganggu. kalo nelpon temen cowok,,ntar dikira naksir lagi, hehe…padhl kan cm mw silaturahmi,,kangen ama temen lama;p

  2. agus auri cahyono berkata:

    asalamualaikum.wrb.tentang yang disampaikan diatas pada awalnya saya setuju tapi setelah saya praktekkan ternyata malah menjadi bumerang pada diri saya sendiri,karena seperti sebuah lagu yang berjudul “diantara kalian”sekarang saya mencintai seseorang gadis yang telah punya seorang kekasih,sekarang aku minta saran…..#OK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s